Jumat, 04 Juni 2010

Mengapa Kita Melakukan Flirting?

Mengapa Kita Melakukan Flirting?
Daya tarik seorang individu, ditentukan oleh bagaimana dia berkomunikasi. Dalam hal ini, dalam hal menarik perhatian dari lawan jenis (atau sesama jenis untuk yang homoseksual). Setiap bangsa atau tradisi budaya, memiliki perbedaan dalam metode-metode flirting. Adapun, ada satu benang merah yang merajut semua perbedaan itu. Apakah itu? Mari kita bahas.

Bagaimana Flirting dengan Lawan Jenis?
Berbeda dengan keyakinan yang sudah beredar luas, hanya ada dua tipe manusia yang melakukan flirting: Pertama, mereka yang masih single, dan yang sudah menikah. Single melakukan flirting, karena mereka single, dan oleh karena itu tidak ada seorang pun yang berkewajiban untuk diskusi dengan mereka, tidur dengan mereka, atau sharing dengan mereka di rumah. Namun orang yang sudah menikah, mereka adalah teka teki yang agak rumit. Mereka sudah menemukan pasangan yang cocok, lalu memiliki kehidupan seks yang baik, dan memiliki keturunan. Mereka sudah melaksanakan tugas evolusi biologis mereka. Genom mereka akan bertahan.
Lalu, kenapa mereka tetap melakukan flirting? Satu hal yang pasti, flirting bukan hanya mengenai pembicaraan, namun juga gerakan tubuh, dan tatapan mata. Perhatikan bagaimana seseorang berhadapan dengan lawan jenis, dan mengangkat tumitnya? Perhatikan juga gerakan alis yang dibuat, yang di barengi dengan senyuman kecil, dan tatapan yang berkelanjutan? Ilmuwan menamakan aksi kecil ini sebagai ‘persiapan kontak’, sebab ini merupakan indikasi non verbal, bahwa mereka sudah siap melakukan kontak fisik. Signal ini sangat penting, dari suatu proses inisiasi hubungan heterokseksual. Artinya, ini adalah signal fisis, bahwa tidak ada maksud untuk mendominasi, atau melarikan diri. Signal tersebut adalah pesan potensial dimana lawan jenis harus berikan, sebelum fase berbicara yang rumit dimulai. Ini adalah fase pembukaan.

Flirting Tidak Bisa Dihindari
Manusia diprogram untuk melakukan itu, secara biologis dan kultural. Bagian biologis flirting telah diselidiki oleh berbagai peneliti. Pakar Ethologi Eibl Eibesfeld, dari Institut Max Planck Jerman, membuat film dokumentasi mengenai suku-suku Afrika pada tahun 60an dan menemukan bahwa perempuan disana melakukan tatapan panjang yang diikuti dengan gerakan kepala, diikuti dengan senyuman kecil, seperti yang dilihat di Amerika. Ahli Biologi Evolusi menyarankan, bahwa individu yang melakukan manuver flirting dapat dipastikan akan mudah menemukan pasangan, dan melakukan reproduksi. Perilaku seperti ini yang akhirnya menyebar luas ke semua manusia.
‘Banyak orang merasa bahwa flirting adalah bagian dari bahasa universal terkait dengan cara kita berkomunikasi, terutama secara non verbal’, demikian kata Jeffry Simpson, direktur program psikologi sosial pada Universitas Minnesota. Simpson sekarang melakukan kajian pada peranan atraksi dan flirting mainkan pada berbagai fase waktu siklus ovulasi perempuan. Riset tersebut menemukan, bahwa perempuan yang sedang berovulasi jauh lebih atraktif bagi pria yang flirty. ‘Pria tersebut memiliki karakteristik yang menarik bagi perempuan, dan mereka atraktif dengan perilaku flirty tersebut’, demikian kata dia. Simpson tidak terlalu yakin mengapa perempuan berperilaku seperti ini, namun ternyata pria yang bercinta dengan perempuan yang berovulasi memiliki kesempatan besar untuk berprokreasi dan menurunkan gen flirty tersebut, yang berarti bahwa bayi tersebyt akan memiliki lebih banyak bayi dan seterusnya.
Tentu saja, ini bukanlah pilihan sadar, sebab flirting tidak harus dilakukan secara sadar. ‘ Dengan melakukan hal ini, terutama bagian non verbal, orang tidak sadar bahwa mereka melakukan hal itu’, demikian kata Simpson. ‘Anda tidak melihat seperti apa rupanya. Orang bisa saja memberikan gerakan flirting, dan tidak sadar bahwa gerakan tersebut sangat kuat.

Flirting dengan Tujuan
Salah satu poin, jika sudah bergerak ke fase verbal dari flirtation, dapat dipastikan bahwa itu memiliki maksud. Ada beberapa pemikiran yang mengajarkan, bahwa tidak ada yang salah dengan itu. Flirtation adalah permainan yang kita mainkan, suatu gerakan dansa yang semua orang sudah tahu ke mana arahnya. ‘Orang bisa saja melakukan flirting tanpa memiliki maksud apa apa’, demikian kata peneliti seksologi Timothy Perper, yang sudah meneliti fenomena flirting selama 30 tahun. ‘flirting menangkap minat dari orang lain dan mengatakan ‘Apakah kamu mau bermain?’. Dan salah satu hal menarik dari permainan ini adalah, aturan normal dari interaksi sosial cenderung lentur. Kejelasan (’Clarity’) bukanlah poin utama. ‘ Flirting membuka jendela potensial, bukan iya, bukan juga tidak,’ demikian kata Perper. ‘Jadi kita terlibat dalam permainan kompleks dari ‘mungkin”.
Begitu kita sudah mempelajari permainan ‘mungkin’ ini, maka kita akan terbiasa. ‘Kita semua belajar aturan bagaimana untuk berperilaku di berbagai situasi, dan ini membuatnya mudah bagi orang untuk tahu bagaimana bertindak, bahkan ketika gugup,’ demikian kata Antonia Abbey, profesor psikologi pada Universitas Wayne State. Seperti juga kita belajar naskah bagaimana berperilaku yang baik di restoran atau pertemuan bisnis, kita juga mempelajari bagaimana berbicara dengan lawan jenis, demikian kata dia. ‘Kita sering membuat naskah pembicaraan ini tanpa berpikir’, demikian kata dia. ‘Bagi beberapa pria dan perempuan, naskah ini dapat dipelajari dengan baik, sehingga flirting menjadi strategi yang nyaman untuk berinterasi dengan orang lain’. Dengan kata lain, ketika kita ragu, kita melakukan fliriting.

PENTINGNYA BERJAKET

Selain itu dr. Endrico juga memberi wejangan. Bukan Cuma wilayah muka, bagian dada juga perlu mendapat proteksi. Kan masih banyak pengendara yang tidak mengindahkan bagian ini. Padahal, terdapat organ vital di sektor itu.

"Gunakan jaket tertutup. Angin dingin saat berkendara bisa membuat organ terganggu dalam waktu yang lama," jelasnya.

Ia juga menilai penggunaan windshield di beberapa motor cukup membantu menahan terpaan angin ke dada. "Selama tidak mengganggu keselamatan penggunaan windshield sangat baik," paparnya.

JANGAN ANGGAP ENTENG TERPAAN ANGIN

Jangan anggap enteng terpaan angin yang terus-menerus menampar bagian wajah. Paparan secara intens ini berpotensi mengakibatkan kelumpuhan di wajah.

"Bahasa medisnya Bell's Palsy. Ini semacam stroke di wajah. Bedanya stroke dalam keadaan tak sadar. Bell's Palsy penderita masih dalam keadaan siuman," jelas dr. Enrico A. Rinaldi, kepala klinik PT Ristra Indolab..

Penyebab Bell's Palsy yakni angin yang masuk ke dalam tengkorak atau Foramen Stilo Mastoideum. Angin dingin dari arah depan ini membuat syaraf di sekitar wajah sembab lalu membesar. Akibatnya syaraf terjepit. Ini yang menyebabkan kelumpuhan

Hal ini yang dialami oleh Widiarko Guruh, staf desain grafis Majalah MOTOR. "Wajah terasa kaku. Mata sulit digerakkan. Sekarang dalam proses fisioterapi. Kejadian yang sama juga dialami oleh beberapa pengendara di lokasi pengobatan," jelasnya.

Dari pengalamannya dan rekannya yang sesama penderita terungkap, mereka tidak menggunakan helm tertutup. Akibatnya, angin yang rutin menerpa bagian muka mengakibatkan syaraf nomor tujuh mengalami pembengkakan.

"Syaraf itu bernama Nervous Fascialis. Biasanya penderita mengalami gejala awal rasa nyeri di kepala, di dalam telinga dan sudut rahang. Timbulnya mendadak dan di pagi hari," jelas dokter yang juga pengendara Yamaha Mio 2006 ini.

Untuk itu, dr. Enrico mewanti agar pengendara motor tidak asal menggunakan perlengkapan keselamatan. "Helm fullface yang benar satu-satunya cara agar terhindar dari Bell's Palsy. Pilihlah helm yang tidak terlalu ketat juga tidak longgar," jelasnya.

Ia juga menegaskan penggunaan helm halfface ditambah google tidak cukup membantu. Sebab, peranti itu hanya melindungi bagian mata. Muke ente masih tetap kan tampar angin.

Penderita Bell's Palsy mesti mendapat perawatan yang cepat. Dikasih Preadnisone. "Kecenderungannya mata juga kering. Teteskan tiap hari. Sebagian besar penderita akan sembuh spontan. Makin cepat pengobatan makin baik," ungkapnya.